Rabu, 28 Desember 2011

deteksi asetin


I.                   PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
            Setiap jenis minyak atsiri mempunyai sifat khas tersendiri dan sifat ini tergantung dari persenyawaan kimia yang menyusunnya. Sifat-sifat khas dan mutu minyak dapat berubah mulai dari minyak yang masih berada dalam bahan yang mengandung minyak, selama proses ekstraksi, penyimpanan dan pemasaran. Karena itu penilaian mutu perlu dilakukan dengan cara menganalisa sifat fisiko kimianya.
            Ester asam asetat dari gliserin kadang-kadang dipergunakan sebagai pemalsu untuk menaikkan kadar ester. Penambahan minyak terpentin sebagai bahan pemlsu, umumnya mengurangi bobot jenis serta mempengaruhi kelarutan dan putaran optik sebagaian besar minyak atsiri. Adanya terpentin dalam minyak atsiri yang tidak mengandung komponen pinena alamiah dibuktikan cara-cara pemisahan dan identifikasi alpha-pinena, yang merupakan komponen utama minyak terpentin.
Minyak kayu putih adalah hasil penyulingan daun dan ranting berupa tanaman tersebut. Untuk itu dipetik daun dan ranting yang segar. Minyak kayu putih mengandung cineol (kayu putol) kadar keseluruhan termasuk C10H13O antara 50-65% dan terpinol bebas atau sebagai ester dengan asam cuka, asam mentega dan asam valerat.
Mutu minyak kayu putih diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mutu Utama (U) dan mutu Pertama (P). Keduanya dibedakan oleh kadar cineol, yaitu senyawa kimia golongan ester turunan terpen alkohol yang terdapat dalam minyak atsiri seperti kayu putih. Minyak kayu putih mutu U mempunyai kadar cineol ≥ 55%, sedang mutu P kadar cineolnya kurang dari 55%.

1.2 Tujuan Percobaan
            Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa (praktikan) mengetahui dan mendeteksi adanya pemalsuan dari suatu minyak.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Untuk mendeteksi kerusakan dan pemalsuan dari minyak atsiri, pengujian yang terpenting adalah sifat fisiko-kimia dari minyak atsiri yang dihasilkan. Penentuan bobot jenis, putaran optik, kelarutan dalam alkohol, dan indeks bias ditentukan secara rutin untuk semua jenis minyak, cairan solat dan sintetik. Uji khusus lainnya dapat pula dilakukan (misalnya kadar eter, penentuan total alkohol, titik beku, residu penguapan dan hal ini tergantung pada jenis bahan) (Guenther,1987).
Pemeriksaan secara organoleptik biasanya dilakukan dengan cara mencium bau (odor) dari minyak yang menguap diatas kertas kembang (blotting paper). Cara pengujian ini dapat menetukan mutu dan memalsukan minyak atsiri secara kwantitatif. Pemalsuan minyak dengan cara penambahan bahan yang mudah menguap dapat terdeteksi dengan cara mengeringkan kertas kembang tersebut (Ketaren, 1981).
Dalam dunia perdagangan, minyak kayu putih dikenal dengan nama cajuput oil atau maleuca oil yang diperoleh dari hasil penyulingan daun kayu putih (segar). Standar mutu minyak kayu putih menurut EOA adalah sebagai berikut warna: cairan yang berwarna kuning atau hijau serta kelarutan dalam alkohol 80% : larut dalam 1 volume. Untuk mempertahankan mutu, sebaiknya minyak kayu putih disimpan dalam drum berlapis timah putih (Lutony dan Rahmawati, 2002).
Keuntungan senyawa aroma hasil ekstraksi adalah dapat digunakan untuk menambah aroma dari bahan-bahan lain. Senyawa aroma yang sering kali diekstraksi adalah oleoresin dari tumbuh-tumbuhan dan rempah-rempah. Usaha-usaha mengekstraksi senyawa aroma dari bahan-bahan pangan meningkat sejalan dengan usaha untuk mengidentifikasi senyawa dari aroma tersebut ( Winarno, 1997).
Rendemen minyak nilam dapat ditingkatkan dengan penanganan bahan baku yang tepat. Menurut Hernani dan Risfaheri (1989), rendemen minyak nilam tertinggi didapat dari kombinasi perlakuan lama penjemuran 2 jam dan pelayuan 9 hari. Kadar patchouli alkohol tertinggi diperoleh dari kombinasi perlakuan penjemuran 6 jam dan pelayuan 9 hari. Makin tinggi kadar patchouli alkohol makin tinggi pula mutu minyaknya (Hernani dan Risfaheri. 1989).



























III. METODE PERCOBAAN


3.1 Bahan dan Alat
            Bahan yang digunakan adalah minyak kayu putih berbagai merk ( cap ayam, cap konicare, cap lang dan minyak katu putih fitocare), alkohol, phenolphthalein, etanol, NaoH beralkohol.
            Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah beaker glass, corong pisah, pipet tetes, penangas uap, erlenmeyer.

3.2 Cara Kerja
1.      Dikocok 20 ml minyak dengan 40 ml alkohol dalam gelas tertutup, kemudian masukkan kedalam corong pisah.
2.      Ditambahkan 30 ml etanol dengan pipet tetes, jika campuran terpisah sempurna
3.      Dinetralkan larutan tersebut dengan cara meniternya dengan larutan NaOH 0,5 N dan sebelumnya ditambahkan beberapa tetes phenolphthalein sebagai indikator.
4.      Ditambahkan 5 ml larutan NaOH beralkohol dan dipanaskan campuran tersebut diatas penangas uap selama 1 jam.
5.      Diangkat labu dan dibiarkan campuran tersebut dingin.
6.      Dititrasi kelebihan alkali dengan larutan HCL 0,5 N.








IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Data Hasil Pengamatan
Berikut ini adalah data hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan:
Klp
Bahan
Alkohol
(ml)
NaOH
0,5 %
(ml)
HCL
0,5 N
(ml)
Warna
Kadar asetin
1
2
3
4
1
MKP cap lang
70 ml
1 ml
2 ml
Hijau kekuningan
Hijau keruh
Merah hati muda
Kuning keruh
0,659%
2
MKP cap ayam
40 ml
1,1 ml
3,3 ml
Hijau muda bening
Hijau muda keruh
Merah marun
Coklat muda
0,463%
3
MKP cap conicare
20 ml
0,6 ml
1,3ml
Kuning
Kuning keruh
Merah hati muda
Kuning keruh
0,364%
4
MKP cap fitocare
40 ml
1,7 ml
2,6ml
Hijau bening
Hijau bening
Merah hati muda
Kuning keruh
0,365%

B. Pembahasan
            Asetin merupakan ester asam asetat. Asetin sebagian besar digunakan sebagai bahan pemalsu minyak atsiri. Tujuan ditambahkan asetin kedalam minyak atsiri adalah untuk menaikkan kadar ester dalam minyak tersebut. Pada  umumnya akan mengurangi bobot jenis serta mempengaruhi kelarutan dan putaran optik pada sebagian besar minyak atsiri. Asetin juga mempunyai sifat relatif larut dalam air maka zat tersebut mudah dicuci dan diuji, asetin juga mempunyai kelarutan yang paling kecil triasetin karena hanya larut dalam air dalam jumlah sekitar 7% sehingga asetin dapat dipisahkan dengan pelarut alkohol.
Pada percobaan ini setelah ditambahkan 5 ml larutan NaOH beralkohol dilakukan pemanasan diatas penangas uap atau kompor selama 1 jam, hal ini bertujuan untuk melarutkan NaOH-beralkohol yang ada dalam kandungan  minyak tersebut dan untuk melepaskan asetin. Kalau tidak dipanaskan maka NaOH-beralkohol yang ada dalam minyak atsiri tidak akan larut.
Persenyawaan alkohol merupakan salah satu komponen yang menyusun minyak atsiri, alkohol tertier dalam minyak dapat ditentukan jumlahnya dengan cara mereaksikannya dengan asetat anhidrat sehingga terbentuk ester. Jumlah ester yang terbentuk dapat ditentukan dengan reaksi penyabunan. Jumlah alkohol primer dan sekunder dapat ditentukan dengan menggunakan pereaksi ftalat anhidrida.
Berikut ini adalah rumus struktur umum asetin:

                                          O 
    H3CO                                                                                                   OCH3           









 

   HO                                                                       OH
              

                                                            
                         
        GVT-O
                                          O             O
                                                                                                                                          OCH3   









 

                                                                                               OH                      
           

Antara minyak dan alkohol akan mengalami pemisahan, hal ini mungkin disebabkan karena konsentrasi alkohol yang terlalu tinggi. Minyak atsiri dapat larut dalam alkohol pada perbandingan dan konsentrasi tertentu. Dengan demikian dapat diketahui jumlah dan konsentrasi alkohol yang dibutuhkan untuk melarutkan secara sempurna sejumlah minyak atsiri. Pada dasarnya minyak atsiri yang mengandung persenyawaan “oksigenated terpene” lebih mudah larut dari pada yang mengandung terpene. “oksigenated terpene”, komponen kimia dari golongan persenyawaan ini terbentuk dari unsur carbon, hydrogen dan oksigen. Persenyawaan yang termasuk dalam golongan ini adalah alkohol, aldehida, keton, oksida, ester dan ether. Ikatan atom karbon yang terdapat dalam molekulnya dapat terdiri dari ikatan jenuh dan ikatan tidak jenuh. Persenyawaan yang mengandung ikatan tidak jenuh umumnya tersusun dari terpene. Komponen yang lainnya terdiri dari persenyawaan fenol, asam organik yang terikat dalam bentuk ester misalnya lakton, coumarin dan turunan dari furan misalnya quinines. Berbagai komponen kimia dalam kedua golongan persenyawaan ini berbau wangi khas yang berbeda-beda pada setiap jenis minyak yang berlainan.
Dari keempat bahan yang diuji, bahan yang paling baik adalah minyak kayu putih cap conicare, karena kemurnian minyak dapat dilihat dari segi  jumlah kadar asetin yang diperoleh yaitu sekitar 0,364%. Jika kadar asetin sedikit berarti minyak tersebut sedikit ditambahkan bahan pemalsu, sedangkan bahan yang lain, kadar asetinnya tinggi sehingga lebih banyak mengandung bahan pemalsu yang ditambahkan kedalam minyak tersebut dan kemurniannya kurang. Dari segi lain kemurnian minyak dapat ditentukan dengan penentuan berat jenis karena penentuan berat jenis adalah salah satu dari cara analisa yang dapat menggambarkan kemurnian minyak. Jika analisa kemurnian minyak dilakukan bukan secara kimia misalnya dengan melihat warna minyak dan kejernihan minyak, itu akan sulit karena kita tidak bisa mendeteksi kandungan apa aja yang terkandung dalam minyak tersebut, sedangkan dengan cara kimia akan lebih mudah karena pungujiannya memakai alat atau pun dengan pelarut yaitu dengan penentuan berat jenis, putaran optik, indeks bias, kelarutan dalam alkohol, bilangan asam, pengujian dengan uji organoleptik, berdasarkan sifat fisiko kimia dan analisa dengan kromatografi kertas.
Berikut ini adalah uji-uji lain yang dilakukan untuk mendeteksi pemalsuan selain uji asetin antara lain:
«  Deteksi rosin
# Deteksi rosin dalam balsam dan gum
# Deteksi rosin dalam minyak Cassia
# Deteksi rosin dalam minyak jeruk.
«  Deteksi terpinil asetat
«  Deteksi minyak terpentin
«  Deteksi etil alkohol
«  Deteksi metil alkohol
«  Deteksi ester bertitik didih tinggi
# Deteksi berbagai macam ester
# Deteksi Fthalat
«  Deteksi minyak mentha arvensis
«  Dan lain-lain.













V. PENUTUP


5.1 Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah:
  • Asetin merupakan ester asam asetat. Asetin sebagian besar digunakan sebagai bahan pemalsu minyak atsiri.
  • Tujuan ditambahkan asetin kedalam minyak atsiri adalah untuk menaikkan kadar ester dalam minyak tersebut.
  • Asetin juga mempunyai sifat relatif larut dalam air maka zat tersebut mudah dicuci dan diuji, asetin juga mempunyai kelarutan yang paling kecil triasetin karena hanya larut dalam air dalam jumlah sekitar 7% sehingga asetin dapat dipisahkan dengan pelarut alkohol.
  • Asetin juga mempunyai sifat relatif larut dalam air maka zat tersebut mudah dicuci dan diuji, asetin juga mempunyai kelarutan yang paling kecil triasetin karena hanya larut dalam air dalam jumlah sekitar 7% sehingga asetin dapat dipisahkan dengan pelarut alkohol.
  • Tujuan dilakukan pemanasan selama 1 jam adalah  untuk melarutkan NaOH-beralkohol yang ada dalam kandungan  minyak tersebut dan untuk melepaskan asetin. Kalau tidak dipanaskan maka NaOH-beralkohol yang ada dalam minyak atsiri tidak akan larut.
  • Dari keempat bahan yang diuji, bahan yang paling baik adalah minyak kayu putih cap lang, karena kemurnian minyak dapat dilihat dari segi  jumlah kadar asetin yang diperoleh yaitu sekitar

5.2 Saran
            Sebaiknya percobaan dari praktikum teknologi pengolahan minyak atsiri dan kosmetika ditambah jangan hanya 5 judul saja.


DAFTAR PUSTAKA
Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri Jilid I. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Hernani dan Risfaheri. 1989. Pengaruh Perlakuan Bahan Sebelum Penyulingan Terhadap Rendemen dan Karakteristik Minyak Nilam. Pemberitaan Penelitian Tanaman IndustriXV(2): 84-87.
Ketaren, S. 1981. Minyak Atsiri. Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknologi Pertanian – IPB, Bogor.
Lutony, T.L. dan Yeyet Rahmayanti. 2002. Produksi Dan Perdagangan Minyak Atsiri. Penebar Swadaya.
Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan Dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.























Kristalisasi karbohidrat


I. PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
                Untuk kelangsungan hidupnya, manusia memerlukan kebutuhan yang asasi, yaitu kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan asasi setia manusia berbeda-beda, tergantung dari peradaban dan tatanan kehidupan masyarakat itu sendiri. Setiap manusia memrlukan bahan makanan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Dengan menggunakan bahan makanan, manusia membangun sel-sel tubuhnya dan menjaganya agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
                Pada umumnya manusia dapat memakan hasil pertanian atau hampir apa saja yang tumbuh di bumi ini. Makanan mereka ternyata sangat beraneka ragam. Beragamnya makanan tidak berarti semua makanan dapat dijadikan sebagai makanan pokok. Misalnya makanan yang banyak mengandung protein, tidak akan dapat menggantikan kedudukan karbohidrat sebagai bahan pangan pokok. Hasil olahan dari bahan pangan yang mengandung karbohidrat banyak ragamnya, ada permen, keripik singkong, atau makanan lain seperti kue bolu dan lain sebagainya
                Permen adalah suatu variasi produk yang kebanyakan terbuat dari karbohidrat. Permen dijadikan sebagai bahan makanan selingan yang banyak dikonsumsi hanya sekedar untuk makanan kecil (snack). Walaupun terbuat dari karbohidrat tidak akan cukup energi yang dihasilkan oleh permen untuk keperluan energi yang dibutuhkan menusia.
                Untuk mengetahui cara pembuatan kristalisasi dan permen sebagai hasil kristalisasi, maka untuk itu percobaan ini dilakukan. Dengan harapan pratikan lebih dapat memahami tentang pembuatan kristal dan permen sebagai hasilnya.

B. Tujuan Percobaan
                Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mempelajari hubungan antara suhu didih larutan gula dan kekerasan produk kristal yang dihasilkan, untuk mempelajari dan membahas pengaruh faktor cara pembuatan dan bahan yang digunakan terhadap tekstur produk kristal, untuk mempelajari tentang larutan super jenuh, cara menghasilkannya dan pengaruh nyatanya dalam menghasilkan produk permen kristal bermutu tinggi





























II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Permen, produk ini dibuat dengan mendidihkan campuran gula dan air bersama dengan bahan pewarna dan pemberi rasa sampai tercapai kadar air kira-kira 3 %. Biasanya suhu digunakan sebagai penunjuk kandungan padatan. Sesudah dididihkan sampai mencapai kandungan padatan yang diinginkan (kurang lebih 150 oC) sirup dituangkan pada cetakan dan dibiarkan tercetak. Seni membuat permen dengan daya tahan yang memuaskan terletak pada pembuatan produk dengan kadar air minimum dan dengan sedikit saja kecenderungan untuk mengkristal. Kristalisasi dalam produk-produk ini berakibat mengurangi penampilan yang jernih seperti kaca dan membentuk masa yang kabur. Kekurangan ini disebut graining, dan mengakibatkan penampilan yang kurang memuaskan dan terasa kasar pada lidah.( Lehninger, 1993)
Kristalisasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh zat padat yang terlarut dalam suatu larutan. Dasar metode ini adalah kelarutan bahan dalam suatu pelarut dan perbedaan titik beku. Kristalisasi ada dua cara yaitu kristalisasi penguapan  dan kristalisasi pendinginan. Contoh proses kristalisasi dalam kehidupan saharu-hari adalah pembuatan garam dapur dari air laut ditampung dalam suatu tambak, kemudian dengan bantuan sinar matahari dibiarkan menguap. Setelah proses penguapan, dihasilkan garam dalam bentuk kasar dan masih bercampur dengan pengotornya, sehingga untuk mendapatkan garam yang bersih diperlukan proses rekristalisasi (pengkristalan kembali) Contoh lain adalah pembuatan gula putih dari tebu. Batang tebu dihancurkan dan diperas untuk diambil sarinya, kemudian diuapkan dengan penguap hampa udara sehingga air tebu tersebut menjadi kental, lewat jenuh, dan terjadi pengkristalan gula. Kristal ini kemudian dikeringkan sehingga diperoleh gula putih atau gula pasir. (Suhardjo,1986)
                Kristalisasi akan terjadi secara spontan tetapi dapat dicegah dengan menggunakan bahan-bahan termasuk sirup glukosa dan gula invert yang tidak mengkristal tapi sangat mengahmbat terjadinya kristalisasi pada permen. Bahan semacam itu disebut “dokter” dan dapat ditambahkan sebagai bagian dari ramuan, atau seperti halnya dengan gula invert, dibuat selama proses pemasakandengan katalis seperti tartrat untuk menghidrolisa sukrosa. Permen tarik (Pulled candies) merupakan semacam permen dimana kristalisasi sukrosa sangat penting. Untuk menghasilkan tekstur yang diinginkan, diperlukan kristalisasi sampai tingkat tertentu. Selama pengolahan mekanis dari sirup, terbentuk gelembung udara kecil dan kristal sukrosa kecil didalam permen yang kemudian dipotong-potong dengan ukuran dan bentuk tertentu (Buckle et all, 1985).
Sering terjadi, bila suatu larutan menjadi dingin, padatannya akan mengendap. Pertikel padatan tersebut akan menjadi suatu bentuk geometrik yang khas, yang dikenal sebagai kristal. Bentuk kristal bermacam-macam. Sebagai contoh kristal garam (Natrium klorida) berbentuk kubus. Kristalisasi merupakan suatu cara yang bermanfaat dalam pemurnian suatu padatan. Dalam industri pangan, digunakan untuk memurnikan berbagai bahan yang dapat mengkristal, seperti gula, garam, dan asam sitrat (Gaman, 1992).
Kabohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh penduduk dunia, khususnya bagi penduduk negara yang sedang berkembang. Walaupun jumlah kalori yang dapat dihasilkan oleh 1 gram karbohidrat hanya 4 kkal bila dibanding protein dan lemak, karbohidrat merupakan sumber kalori yang murah. Selain itu beberapa golongan karbohidrat menghasilkan serat-serat (dietary fiber) yang berguna bagi pencernaan.(Winarno, 1992).
                Dalam ilmu dan teknologi pangan, analisa karbohidrat yang biasa dilakukan misalnya penentuan jumlahnya secara kuantitatif dalam rangka menentukan komposisi suatu bahan makanan, penentuan sifat fisis atau kimianya dalam kaitannya dengan pembentukan kekentalan, kelekatan, stabilitas larutan, dan tekstur hasil olahannya. Penentuan karbohidrat yang termasuk polisakarida maupun oligosakarida memerlukan perlakuan pendahuluan yaitu hidrolisa lebih dahulu sehingga diperoleh monosakarida. Banyak cara untuk mengetahui adanya karbohidrat dalam suatu bahan antara lain, uji Molisch, uji Iod, uji Benedict, uji Barfoed, uji Fehling, uji Seliwanoff, uji Antron, uji pembentukan Osazon, uji pembentukan CO2 karena fermentasi dan uji asam mukat (Sudarmadji, 1996).
                Kristal adalah suatu bentuk yang sangat teratur, seperti kubus, belah ketupat, segi empat dan sebagainya. Bentuk kristal yang terbentuk mungkin dipengaruhi oleh adanya ikatam lain di dalam larutan, meskipun sebagai antara. Bentuk kristal secara teknologis penting oleh karena sebagai aliran kristal, dan laju pelarutan berkaitan dengan bentuk kristal. Sifat lain yang penting adalah keseragaman ukuran kristal di dalam suatu hasil. Di dalam suatu hasil seperti sukrosa, suatu campuran yang tidak seragam tidak menarik dalam bentuknya, dan sulit dalam penanganannya, pengepakan dan penyimpanan oleh karena perbedaan ukuran cenderung untuk berpisah (Earle, 1966).
Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton dan meliputi kondensat polimer-polimernya yang terbentuk. Nama karbohidrat dipergunakan pada senyawa-senyawa tersebut, mengingat rumus empirisnya yang berupa CnH12On atau mendekati Cn(H2O)n yaitu carbon yang mengalami hidratasi. Namun demikian nama ini sebenarnya kurang tepat karena hidrat sebagai (H2O) yang melekat pada gugus karbon bukanlah sebagai hidrat yang sebenarnya, misalnya tidak dapat dipisahkan atau dikristalkan tersendiri yang terlepas dari gugusnya. Berbagai cara analisa dapat dilakukan terhadap karbohidrat untuk memenuhi berbagai keperluan.(Muchtadi, 1992)
Karbohidrat juga mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan, misalnya rasa, warna, tekstur dan lain-lain. Sedangkan dalam tubuh, karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya ketosis, pemecahan protein tubuh yang berlebihan, kehilangan mineral. Karbokidrat juga berguna untuk membantu metabolisme lemak dan protein.( Sediaoetama,2000)
Beberapa monosakarida dan oligosakarida mempunyai rasa manis sehingga sering kali digunakan sebagai bahan pemanis. Yang sering digunakan adalaha sukrosa (kristal), glukosa (dalam sirup jagung), dekstrosa (Kristal D-glukosa). D-fruktosa dan maltosa jarang dijual dalam bentuk kristal, tetapi merupakan bahan pemanis makanan yang penting. D-fruktosa terdapat dalam gula invert dan sirup jagung mngandung 45% D-fruktosa atau maltosa. Sebagai standar kemanisan dipergunakan rasa manis sukrosa (Fardiaz, 1980). 



DAFTAR PUSTAKA

Earle, R. L. 1966. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. Sastra Hudaya, Bogor.
Fardiaz, S., D, Fardiaz dan F. G. Winarno. 1980. Pengantar Teknologi Pangan,    Jakarta.
Gaman, P. M. dan K. B. Sherrington. 1992. ILMU PANGAN Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Lehninger. 1993. Dasar-Dasar Biokimia I. Erlangga, Jakarta.
Muchtadi, T. R dan Sugiyono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan. Depdikbud PAU-Pangan dan Gizi IPB, Bogor.
Sediaoetama, A. D. 2000. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi. Dian Rakyat,   Jakarta.
Suhardjo, L.J. Harper., B.J. Deaton., J.A. Driskel. 1986. Pangan gizi dan Pertanian. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Sudarmadji, S., B. Haryono., Suhari. 1996. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty dan PAU Pangan dan Gizi UGM, Yogyakarta.
Winarno, F. G. 1992. Kimia Pangan Dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Winarno, F. G. 1993. Pangan Gizi, Teknologi, dan Konsumen. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.














III. METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah gula pasir sukrosa 3,5 g, gula pasir fructosa 1kg, cokelat tanpa gula, bubuk coklat, air, metega 28 gr, susu kental manis 160 ml, madu 0,7 gr, mentega, cream of tartar, dan susu evaporasi.
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah panci anti lengket, thermometer, pengaduk kayu, timbangan analitik, kulkas, penatrometer dan kertas lilin.

3.2 Cara Kerja
  1. Dimasukkan gula, air dan cokelat kedalam panci.
  2. Dipanaskan bahan sambil diaduk dengan pengaduk.
  3. Didihkan.
  4. Dipindahkan panci dari api. Dihindarkan pengadukan dan gerakan yang tidak diperlukan.
  5. Ditambahkan mentega tanpa pengadukan.
  6. Diaduk campuran sampai mengental dan terlihat siap untuk mengeras.
  7. Dituangkan kedalam kertas lilin yang dibentuk menjadi empat persegi.
  8. Dimasukkan kedalam kulkas dan evaluasi produk setelah beberapa jam.









IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan
Klp.
Penampakan
Konsistensi
Cita rasa
Tekstur
Kekerasan
1
Berkilau
Keras
Manis
Sangat kasar
Sangat keras
2
Berkilau
Lunak
Manis
Cair
Tidak keras
3
Berkilau
Sangat mudah patah
Manis
Sangat halus
Lembut
4
Agak kusam
Agak keras
Sangat manis
Sangat keras
Sedikit Keras
5
Berkilau
Agak mudah patah
Manis
Keras / berbutir
Sedikit keras/ lembut

B. Pembahasan
Kristalisasi adalah suatu proses pemisahan dimana suatu massa yang dipindahkan dari suatu larutan bahan cair yang komposisinya biasanya tercampur, menjadi kristal murni padat. Dalam kristalisasi terjadi perubahan bentuk secara fisik, dari bentuk cairan ke bentuk padatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses kristalisasi adalah kejenuhan larutan dan pembentukan latis kristal. Kristalisasi merupakan salah satu proses yang penting dalam teknologi pengolahan pangan, seperti pada proses pengolahan gula. Dalam pengolahan larutan gula sukrosa gula ini harus dimurnikan dan dikonsentrasikan untuk membiarkan sukrosa mengkristal dan keluar dari larutan.
Fungsi penambahan mentega bertujuan untuk memperbaiki tekstur produk yang dihasilkan, agar flavor, tekstur, penampilan, konsistensi dan kekerasannya lebih baik dan lebih lembut. Biasanya penambahan mentega lebih cenderung ke tekstur, kekerasan dan konsistensi produk yang dihasilkan. Walaupun demikian peran mentega juga tidak terlepas dari jumlah serta jenis produk yang digunakan. Jika digunakan  produk yang dapat menghambat atau mengubah tekstur menjadi lebih kasar yang jumlahnya lebih besar dari jumlah mentega (tidak seimbang), maka sejumlah kecil mentega yang terdapat pada bahan tidak dapat memperbaiki mutu organoleptik.
Pengaruh proses pengadukan yang dilakukan pada pembuatan permen ketika bahan tersebut dipanaskan dapat mempercepat terjadinya pemanasan bahan sehingga campuran bahan lebih cepat larut. Proses pengadukan yang dilakukan setelah bahan  pembuatan permen  selesai dipanaskan dengan suhu tertentu, dilakukan untuk mempercepat terjadinya proses kristalisasi bahan, karena bahan lebih cepat tahan dingin, sehingga lebih cepat memadat (mengkristal).
Variasi Produk permen merupakan variasi yang paling bagus. Karena  menggunakan bahan dengan formulasi dasar menghasilkan flavor yang sangat manis, tetapi bertekstur kasar dengan tingkat kekerasan yang keras, berkonsistensi keras tetapi memiliki penampilan yang kusam. Produk permen dengan formulasi air 100 % menghasilkan flavor yang sangat manis, bertekstur halus dengan tingkat kekerasan yang sangat lembut, berkonsistensi sangat mudah patah tetapi memiliki penampilan yang berkilau. Produk permen dengan komposisi 50 % air dan 50 % susu menghasilkan flavor yang sangat manis, bertekstur agak kasar dengan tingkat kekerasan yang lembut, berkonsistensi agak keras tetapi memiliki penampilan yang berkilau.
Pada umumnya semua produk yang variasi yang berbeda-beda menghasilkan flavor yang sama, hanya saja berbeda-beda dalam hal tekstur, penampilan, konsistensi dan kekerasannya. Hal ini disebabkan oleh bahan-bahan yang digunakan, bahan yang ditambahkan atau bahan yang digantikan dan perlakuan suhu yang berbeda dalam pembuatan permen tersebut. Bahan-bahan yang digunakan dalam formulasinya mempunyai peranan masing-masing yang berpengaruh dalam proses pembuatan permen. Berdasarkan data pengamatan setiap variasi dari bahan menghasilkan permen yang bervariasi pula. Susu mengandung lemak dan protein. Karena kandungan lemak yang terdapat pada susu dapat mengikat gula pada bahan sehingga mempercepat proses kristalisasi. Produk yang menggunakan air sebagai pengganti susu tidak dapat mengkristal karena pada air tidak terdapat suatu komponen yang dapat mengikat gula, seperti lemak pada susu. Untuk penampakan berkilau, konsitensi lunak,mempunyai cita rasa yang manis,bertekstur cair atau encer, dan tidak memiliki kekerasan. Karena air hanya bersifat melarutkan bahan yang dicampur, sehingga pada formulasi susu yang diganti dengan air ini tidak terjadi kristalisasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses kristalisasi adalah kejenuhan larutan dan pembentukan latis kristal. Kristalisasi yang terjadi pada karbohidrat juga dapat dipengaruhi oleh oleh dua faktor yaitu : metode yang digunakan dan formulasi bahan yang digunakan dalam proses kristalisasinya. Metode yang digunakan dapat berupa pengadukan bahan, interfal waktu pemanasan yang digunakan, perbedaan suhu pada saat pemanasan, perlakuan pendinginan bahan dengan menggunakan alat tertentu maupun dengan sendirinya dan lain-lain. Sedangkan formulasi bahan yang digunakan adalah seperti yang dilakukan pada percobaan ini.
















V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari percobaan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :
  1. Kristalisasi adalah suatu proses pemisahan dimana suatu massa yang dipindahkan dari suatu larutan bahan cair yang komposisinya biasanya tercampur, menjadi kristal murni padat.
  2. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses kristalisasi adalah kejenuhan larutan dan pembentukan latis kristal.
3.      Kandungan lemak yang terdapat pada susu dapat mengikat gula pada bahan sehingga mempercepat proses kristalisasi.
  1. Penambahan mentega bertujuan untuk memperbaiki tekstur produk yang dihasilkan, agar flavor, tekstur, penampilan, konsistensi dan kekerasannya lebih baik dan lebih lembut.
  2. Proses pengadukan yang dilakukan pada bahan ketika bahan tersebut dipanaskan dapat mempercepat terjadinya pemanasan bahan sehingga campuran bahan lebih cepat larut.
  3. Variasi Produk permen merupakan variasi yang paling bagus. Karena  menggunakan bahan dengan formulasi dasar menghasilkan flavor yang sangat manis.
  4. Pada umumnya semua produk yang variasi yang berbeda-beda menghasilkan flavor yang sama, hanya saja berbeda-beda dalam hal tekstur, penampilan, konsistensi dan kekerasannya.




Laporan Praktikum Kimia Dan Analisis Hasil Pertanian